Mukena Batik Jember Mulai Diminati Warga


Mukena Batik Jember Mulai Diminati Warga

“ Oleh Zumrotun Solichah ”

Antara Jatim.com
Jember - Kain batik ternyata tidak hanya digunakan sebagai bahan pakaian, perajin batik di Kecamatan Sumberjambe, Kabupaten Jember, Jawa Timur mulai memasarkan mukena batik, ternyata laku di pasaran lokal dan luar kabupaten Jember.

"Banyak warga yang mulai memesan mukena batik sebagai rasa kecintaannya terhadap budaya Indonesia," kata perajin batik asal Desa Sumberpakem, Kecamatan Sumberjambe, Sri Astuti, Kamis.

Menurut dia, awalnya membuat ide membuat mukena dan sajadah dari kain batik berasal dari salah seorang konsumen yang mencoba memesan mukena dari batik.

"Setelah satu pesanan mukena jadi, banyak orang yang mulai tertarik dengan mukena batik tersebut, sehingga pesanan mukena dan sajadah batik terus mengalir," katanya.

Ia mengaku hanya membuat perlengkapan shalat dari batik sesuai pesanan karena keterbatasan modal dan corak atau motifnya disesuaikan dengan keinginan konsumen.

"Banyak konsumen yang ingin mengenakan mukena batik yang bergambar daun tembakau karena tembakau merupakan corak khas batik Jember," katanya.

Beberapa butik pakaian muslim di Jember, kata dia, juga berencana memesan mukena batik dengan jumlah yang banyak, namun pihaknya belum sanggup karena banyaknya pesanan kain batik pada bulan Oktober ini.

"Kami masih kewalahan untuk menyelesaikan pesanan batik dari sejumlah perusahaan swasta dan instansi pemkab sehingga masih memproduksi mukena batik dengan jumlah terbatas," katanya.

Ia mengemukakan, industri batik yang dikelola dengan suaminya mencoba mencari ide baru untuk mengembangkan batik di Jember dan tidak hanya digunakan untuk pakaian saja.

"Kami mempunyai angan-angan untuk membuat sejumlah kerajinan tangan khas Jember dengan bahan kain batik, namun hal itu merupakan program jangka panjang kami," katanya.

Ia menjelaskan, pihaknya tetap mempertahankan kualitas batik sehingga tidak bisa cepat menerima pesanan karena hampir semua konsumen memesan batik tulis yang membutuhkan waktu beberapa hari untuk menyelesaikannya.

"Proses batik tulis lebih lama dibandingkan batik cap yang harganya lebih murah dibandingkan harga batik tulis," katanya.

Daun Tembakau Jadi Motif Batik Khas Jember



Daun Tembakau Jadi Motif Batik Khas Jember

“ Oleh Zumrotun Solichah ”

Antara Jatim.com

Jember, - Dunia melalui UNESCO sudah mengakui batik Indonesia sebagai budaya tak-benda warisan manusia, sehingga pengakuan tersebut membuat bangga masyarakat Indonesia yang sudah turun-temurun membuat batik.

Beragam motif dan corak batik ditorehkan dalam sebuah kain putih, sehingga ribuan corak batik dengan berbagai keunikan sudah dihasilkan oleh masyarakat yang notabene sebagai perajin batik di Nusantara.

Seiring dengan perubahan dan perkembangan zaman, perajin batik mulai berbenah untuk mencari motif sesuai dengan selera pasar di tingkat lokal, nasional, bahkan internasional untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi dalam industri batik.

Namun, tidak sedikit perajin batik yang berusaha mempertahankan motif batik yang diyakini bisa menjadi ciri khas suatu daerah tertentu, sehingga masyarakat luas mudah mengenali kain batik tersebut dari corak dan motifnya.

Seperti yang dilakukan Mawardi, seorang perajin batik asal Desa Sumberpakem, Kecamatan Sumberjambe, Kabupaten Jember, Jatim, selama beberapa tahun terakhir ini, ia mencoba mempertahankan motif daun tembakau yang diyakini sebagai motif batik khas Jember.

"Jember merupakan salah satu kabupaten yang dikenal sebagai produsen tembakau, sehingga tidak heran para perajin batik di kabupaten ini berusaha mempertahankan motif tembakau sebagai motif batik khas Jember," kata Mawardi yang sudah menyukai batik sejak kecil ini.

Sekilas, batik Sumberjambe terlihat hampir sama dengan batik di daerah lainnya yang kaya dengan motif dan penuh dengan sentuhan seni para pembatiknya, sehingga kain batik memiliki pesona tersendiri bagi pemakainya.

Dengan cekatan dan tangan terampilnya, Mawardi mencoba membuat berbagai motif batik sesuai dengan pesanan konsumen, namun apa pun motif batik yang dibuatnya, ia tidak pernah lupa untuk memadukannya dengan motif daun termbakau.

Ia mengakui, masyarakat tidak banyak yang mengenal batik Jember karena batik Solo, Yogyakarta dan Madura lebih terkenal dibandingkan batik yang sederhana di kabupaten yang kecil di kawasan Besuki ini.

"Beberapa daerah di Jatim ternyata kaya akan budaya batik yang menjadi khas di daerah setempat, termasuk Kabupaten Jember, " kata pria yang memiliki dua anak yang sudah beranjak dewasa ini.

Sejak turun temurun, kata dia, motif daun tembakau dari ukuran kecil hingga ukuran besar selalu menjadi salah satu motif andalan bagi perajin batik di Kecamatan Sumberjambe tersebut.

"Sejak dulu motif batik berupa daun tembakau sudah menjadi ciri khas batik Jember, meski motif itu belum tidak pernah diajarkan secara turun temurun oleh para perajin batik," ujarnya mengungkapkan.

Harga batik Jember juga terjangkau, batik cap dengan bahan kain katun dijual sebesar Rp65 ribu-Rp80 ribu per-potong, batik tulis yang menggunakan bahan kain katun dijual dengan Rp85 ribu-Rp150 ribu perpotong.

Untuk batik dari bahan kain sutera dijual dengan harga Rp300 ribu perpotong, apabila menggunakan batik cap harganya sekitar Rp125 ribu per-potong. Harga ini lebih murah dibandingkan sejumlah harga kain batik di beberapa daerah.

Menurut dia, banyak warga Jember dan luar Jember yang memesan batik dengan motif daun tembakau karena sudah menjadi ciri khas Kabupaten Jember, yang dikenal sebagai kota tembakau.

"Kami berusaha mengikuti selera pasar terkait dengan motif batik yang ada, namun kreasi motif baru itu selalu dipadukan dengan motif daun tembakau," katanya.

Ia menjelaskan, hampir sebagian besar warga Jember dan luar Jember memilih motif tembakau yang dikombinasikan dengan motif bunga, parang dan tumbuhan yang dibuat semenarik mungkin, sehingga kombinasi coraknya serasi.

Sejauh ini, kata dia, perajin batik di Kecamatan Sumberjambe berusaha mempertahankan motif daun tembakau sebagai motif yang khas Jember, meski beberapa perajin batik di luar Jember menggunakan motif daun tembakau.

"Kami tidak bisa melarang perajin batik lain yang menggunakan motif tembakau karena pembuatan motif batik merupakan kreasi pembatik untuk menarik konsumen. Alhamdulillah di sini, masih banyak yang memesan batik dengan motif daun tembakau," paparnya.

Imbauan Presiden untuk menggunakan baju batik dalam acara resmi, kata dia, memiliki dampak yang luar biasa yang dirasakan para perajin batik di Jember, yakni meningkatnya jumlah pesanan kain batik sebagai sebagai seragam sejumlah instansi pemerintah dan perusahaan swasta.

"Para pembatik di sini sempat kewalahan dan harus kerja ekstra keras untuk menyelesaikan berbagai pesanan batik tulis dan batik cap," tuturnya.

Buruh pembatik di UD Bintang Timur, Sofia, mengaku, gembira dengan banyaknya pesanan batik di Kecamatan Sumberjambe, sehingga para buruh pembatik juga mendapatkan upah yang lumayan banyak seiring dengan banyaknya jumlah pesanan.

Sebagian besar perempuan di Desa Sumberpakem menjadi buruh pembatik di beberapa perajin batik di desa setempat untuk menambah penghasilan suami mereka yang sehari-hari menjadi buruh tani.

"Tidak semua warga di sini bisa membatik, namun membatik adalah warisan secara turun temurun. Saya belajar membatik dari ibu saya dan akan saya teruskan kepada anak perempuan saya," katanya.

Sebagian besar motif kain batik tulis yang dikerjakan, lanjut Sofia, adalah motif daun tembakau dengan berbagai ukuran dan kombinasi motif lain yang dipadukan secara serasi, sehingga motif khas Jember selalu ada dalam setiap potong kain batik.

Sederhana

Belum dikenalnya batik Jember dan pangsa pasar yang masih sulit membuat sejumlah pihak khawatir akan perkembangan batik tulis dengan motif tembakau yang terkesan sederhana dan kurang diminati.

Kepala Dinas Koperasi dan UKM Jember, Mirfano, mengatakan, masyarakat luas belum mengenal batik khas Jember karena masih banyak warga Jember yang enggan menggunakan batik lokal buatan perajin batik Sumberpakem, sehingga hal itu yang menjadikan promosi batik dengan motif tembakau kurang dikenal di tingkat lokal, nasional dan internasional.

"Sebagai warga Jember seharusnya bangga menggunakan baju batik lokal yang kualitasnya tidak kalah dengan batik di beberapa daerah di Tanah Air," katanya.

Ia optimistis dengan promosi yang dilakukan secara serentak dan massif oleh masyarakat Jember dengan cara menggunakan batik lokal dalam acara resmi di luar daerah Jember, secara tidak langsung warga Jember ikut mempromosikan batik yang memiliki motif tembakau tersebut.

"Kami sudah mengedarkan surat imbauan kepada seluruh satuan kerja perangkat daerah (SKPD) dan perusahaan swasta untuk menggunakan batik lokal, minimal sehari dalam enam hari kerja," ujarnya.

Selain promosi yang kurang, lanjut dia, kesulitan mendorong pertumbuhan ekonomi di bidang industri batik juga menjadi kendala tersendiri bagi perajin batik untuk mengembangkan industri batik yang ada di Kabupaten Jember.

Menurut dia, pihaknya berupaya membantu memberikan modal melalui Bank Keluarga Miskin (Bank Gakin) kepada sejumlah perajin batik yang kabarnya kesulitan modal untuk mengembangkan industri batik supaya pertumbuhan "home industry" batik di Desa Sumberpakem tidak gulung tikar.

"Kami berusaha untuk membantu usaha batik mereka dengan mengucurkan sejumlah program bantuan modal dari Perbankan dengan bunga rendah," katanya.

Sejauh ini, teknologi untuk membatik di Jember masih sangat sederhana, sehingga belum memenuhi standar yang layak untuk bersaing di pasar tingkat nasional dan internasional.

"Perajin batik harus mengembangkan wawasan sedemikian rupa untuk mengembangkan motif batik yang diminati pasar, tanpa meninggalkan motif khas Jember berupa daun tembakau," katanya.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan serta Penanaman Modal Jember, Hariyanto, mengemukakan, batik Jember memang belum dikenal oleh masyarakat luas karena motifnya hanya monoton, sehingga kurang diminati oleh konsumen.

"Kalau dulu motifnya itu-itu saja (monoton) dan variasi corak kurang, sehingga tidak layak jual ke pasar baik tingkat lokal maupun nasional" katanya.

Untuk itu, kata dia, pihaknya berupaya memberikan pelatihan dan ketrampilan tambahan kepada perajin batik supaya bisa mengembangkan kreasi motif tembakau dan membuat sebuah terobosan inovatif untuk memajukan industri batik.

"Sebanyak 20 perajin batik pernah diberangkatkan untuk mengikuti 'workshop' terkait dengan inovasi batik, sehingga mereka memiliki wawasan tambahan dalam mengembangkan batik lokal," paparnya.

Di Jember, ada tiga kelompok industri rumah tangga yang mengembangkan usaha batik yang memiliki puluhan buruh pembatik yang berasal dari warga desa setempat.

"Kami meminta kepada perajin batik untuk mengembangkan kreasi motif batik yang diminati pasar, tanpa meninggalkan motif daun tembakau yang menjadi ikon Kabupaten Jember," ucapnya.

Keterbatasan wawasan yang dimiliki perajin batik dan modal usaha menjadi kendala tersendiri bagi perkembangan batik Jember, sehingga sejumlah satuan kerja perangkat daerah (SKPD) berusaha untuk mengatasi persoalan tersebut dan mencoba mencari solusinya.

Untuk mempromosikan batik Jember, lanjut dia, pihaknya selalu berpartisipasi dalam pameran batik di tingkat lokal dan nasional untuk mengenalkan batik Jember kepada masyarakat luas.

"Beberapa kali kami ikut pameran produk Indonesia, minat warga luar Jember terhadap batik yang bermotif daun tembakau cukup besar," katanya.

Kendati motif daun tembakau menjadi ciri khas batik Jember, pihak pemkab setempat tidak memiliki keinginan untuk mematenkan motif tembakau sebagai motif batik khas Jember.

"Kami pikir tidak perlu mematenkan motif daun tembakau sebagai motif khas Jember, karena batik secara umum sudah ditetapkan sebagai budaya Indonesia oleh UNESCO," katanya.

Pemkab Jember, kata dia, memiliki sebuah gerai di kawasan wisata Bali, sebagai upaya mengenalkan batik Jember kepada warga negara asing yang sedang berlibur di Pulau Dewata.

"Kami sudah menjalin kerja sama dengan beberapa toko kerajinan di Amerika Serikat (AS), Belanda, Jerman, Australia dan India untuk memasarkan batik dengan dominasi motif tembakau," katanya.

Sejumlah negara tersebut terkadang mengirimkan pola motif batik yang diminati oleh warga di sana ke perajin batik di Jember untuk dibuat kain batik tulis dengan corak dan motif sesuai dengan pesanan warga di sana.

"Dengan kerja sama seperti itu, perajin batik di Jember bisa mempelajari sejumlah corak yang diminati warga negara asing," katanya.

Sementara anggota DPRD Jember, Ahmad Halim, mengaku bangga terhadap batik Jember yang memiliki ciri khas tertentu, yakni dengan motif tembakau yang terkesan sederhana namun eksotik, apabila dikombinasikan dengan beragam motif.

"Memang benar banyak warga Jember yang belum menggunakan baju batik lokal, sehingga promosi hanya dilakukan oleh pihak perajin batik dan kurang maksimal," katanya.

Ia berharap, pemerintah bisa memberikan pembinaan khusus kepada para perajin batik, terutama yang telah banyak memberikan kontribusi dalam mengurangi pengangguran dan ikut melestarikan batik tulis Sumberjambe.

"Pemkab seharusnya mematenkan motif tembakau sebagai motif batik khas Jember, supaya perajin batik bisa termotivasi untuk mengembangkan motif kreasi tembakau yang lebih mempesona," kata politisi Partai Kebangkitan Bangsa ini.

Apabila dunia sudah mengakui batik sebagai budaya Indonesia, tentu masyarakat harus menjaga warisan nenek moyang tersebut dengan melestarikan batik di masing-masing daerah, yang memiliki ciri khas tertentu.


Mengenang Fadli Rasyid, Seniman Multitalenta Asal Jember

Terus Berkarya hingga Maut Menjemput

Sebelumnya, tak banyak yang mengenal sosok Fadli Rasyid yang akrab disapa Mbah Fadli. Seniman multitalenta asal Mumbulsari Jember ini, sejatinya bukan orang baru dalam dunia seni rupa dan seni tulis. Berbagai karya pria yang wafat pada 15 April 2009, pernah dipublikasikan di media nasional. Kecintaannya pada dunia seni tak terbantahkan. Dia masih berkarya hingga maut menjemput.

Oleh ELITA SITORINI, Radar Jember

---
Suara Lintang menggema di teras Gedung PKM Unej. Gadis berambut pendek itu terlihat begitu bersemangat membacakan salah satu puisi karya sang Kakek, Mbah Fadli. Senin (26/10), pukul 19.00, UKM Kesenian Universitas Jember, Puslit Kebudayaan Unej dan Rumah Kata mengadakan pameran karya seni Mbah Fadli. Dan malam itu, merupakan malam pembuka pameran yang akan berlangsung hingga Sabtu (31/10).

Mbah Fadli memang sudah tiada. Namun, semangat pria kelahiran Mumbulsari tahun 1937 itu masih terasa. Tidak saja di kalangan keluarganya, tapi juga teman dan para pencinta dunia seni di Jember, khususnya. Meski, dilahirkan di daerah pinggiran, Fadli kecil tidak patah arang. Menempuh pendidikan terakhir di SGB Bondowoso, Fadli remaja akhirnya memilih jalan hidupnya untuk berkesenian.

Tahun 1962, bisa dikatakan sebagai tahun yang berarti bagi karir Fadli di dunia seni. Saat itu, dia mulai bergabung di Sanggar Bambu, Jogjakarta. Melepas pekerjaan sebagai guru di Bondowoso dan berbekal mimpi serta harapan meraih asa, mulailah sang pemuda ini mendapat gemblengan dari tokoh-tokoh seni.

Sanggar Bambu yang saat ini sudah berusia setengah abad itu, memang banyak melahirkan tokoh-tokoh seni. Tak mengherankan, jika pemuda seperti Fadli, yang tergila-gila pada seni, tergoda untuk meraup pengetahuan dan pengalaman.

Gemblengan di Komunitas Sanggar Bambu membuat jejaknya di dunia seni semakin terang. Tahun 1964, dia pindah ke Jakarta dan ikut berbagai pameran serta berbagai kegiatan seni rupa. Tahun 1970 bersama Thoha Mochtar, Julius Siyaranamual, Trim Suteja dan Asmara Nababan, dia mendirikan majalah anak-anak Kawanku, yang saat ini dikenal sebagai majalah untuk remaja.

Selain sukses dalam berkesenian, Fadli dikenal sebagai sosok yang keras dan disiplin bagi keluarganya. Istrinya, Sri Utami, menuturkan bahwa meski dalam keadaan sakit parah, Fadli tidak pernah berhenti berkarya.

"Pernah dalam keadaan sakit, dia terus melukis. Sampai suatu hari dia tidur dan tidak saya bangunkan seharian, meski banyak yang mencari. Biar dia bisa istirahat," katanya.

Bagi kedua anaknya, Bayu Nilakandi dan Bahana Purba Gempita, sang ayah dikenal sebagai sosok yang penyayang, meski tidak pernah memanjakan. "Beliau tidak pernah menjanjikan memberi kami sesuatu. Kami juga terbiasa tidak meminta, tapi, beliau selalu memberi yang kami butuhkan," terangnya.

Tak hanya itu, perupa yang menghasilkan karya monumental seperti patung Jenderal Ahmad Yani di Jakarta, patung pemanah di Kompleks Olahraga Senayan, relief di salah satu ruang di Bandar Udara Halim Perdanakusuma Jakarta dan monument Gerbong Maut Bondowoso ini juga sangat sederhana. Dia tidak pernah menyebut dirinya sebagai seniman, meski karyanya sudah bertebaran di mana-mana. "Dia selalu menyebut dirinya seorang petani," terang Sri.

Kesederhanaan dan keinginan untuk berkarya di tanah kelahiran itu, yang membuat Fadli memutuskan kembali ke Mumbulsari Jember tahun 1983. Di tahun itu pula, dia yang sudah berusia 45 tahun, memutuskan untuk menikah dengan Sri Utami yang pada saat itu berumur 25 tahun. Hidup bertani namun masih tetap menulis dan melukis. Sudah banyak karya yang dihasilkan di rumahnya itu.

Pengorbanan dan cita-cita Fadli untuk mengembangkan kesenian di Jember tak pernah lekang. Meski usia beranjak senja, dia masih terus berkarya. Menjelang detik-detik terakhirnya menghirup napas kehidupan, dia menjadikan rumahnya sebagai sebuah sanggar, yang diberinya nama Sanggar Fosil pada 22 Februari 2009.

Sayang, di akhir hayat, masih ada cita-cita yang belum terwujud, yakni membangun monumen untuk pahlawan asli Jember Moch. Sroedji. Bukan karena tidak diusahakan, hanya belum mendapat dukungan dari Pemkab Jember. Padahal, menurut pandangannya, monument itu layak dibangun, karena bisa menjadi spirit untuk mengikis sikap bangsa ini, yang sering melupakan sejarah. (*)

seni

SENI DAN APAKAH ITU SENI?

Berbicara tentang pengertian seni, mungkin kita akan merasa sedikit bingung, karena terlalu banyak ahli yang mengartikan persoalan seni.

Belum ada kesepakatan yang jelas mengenainya, karena tinjauan yang dipakai berbeda-beda. Sejauh ini, dari berbagai pernyataan tentang seni mengarah pada persoalan kesanggupan akal manusia baik berupa kegiatan rohani maupun fisik untuk menghasilkan sesuatu yang bernilai artistik(luar biasa), menggugah perasaan orang lain.

Namun ada beberapa pengertian seni yang bisa kita jadikan sebagai acuan dalam mempelajari Seni itu sendiri. Yang pertama seni dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang dilakukan oleh orang bukan atas dorongan kebutuhan pokoknya, melainkan adalah apa saja yang dilakukan semata-mata karena kehendak akan kemewahan, kenikmatan ataupun karena dorongan spiritual (Everyman Encyclopedia).

Kedua, seni adalah segala perbuatan manusia yang timbul dari hidup perasaannya dan bersifat indah, sehingga dapat menggerakan jiwa perasaan manusia (dalam karya Ki Hajar Dewantara, bagian pertama: Pendidikan, Majelis luhur persatuan Taman Siswa, Yogyakarta,1962).

Tiga Seni merupakan kegiatan rohani manusia yang merefleksikan realitet (kenyataan) dalam suatau karya yang berkat bentuk dan isinya mempunyai daya untuk membangkitkan pengalaman tertentu dalam alam rohani penerimanya (Akhidiyat Karta Mihaja,” Seni dalam pembinaan Kepribadian Nasional). Empat Seni merupakan alat buatan manusia untuk menimbulkan efek-efek psikologis atas manusia lain yang melihatnya ( Thomas Munro,Evolution in the Art, The Cleveland Museum of Art, Cleveland,1963).

Sedangkan seorang pelukis asal Indonesia S, Sudjojono mengatakan, seni adalah jiwo kethok.

Enam Seni adalah karya manusia yang mengkominikasikan pengalaman-pengalaman batinnya; pengalaman batin tersebut disajikan secara indah atau menarik sehingga merangsang timbulnya pengalaman batin pula pada manusia lain yang menghayatinya. Kelahirannya tidak didorong oleh hasrat memenuhi kebutuhan pokok, melainkan merupakan usaha melengkapi dan menyempurnakan derajat kemanusiannya memenuhi kebutuhan yang sifatnya spiritual (Soedarso Sp).

Tujuh seni adalah sebagai transmission 0of feeling (Leo Tolstoy, What is Art?, Bob Merrill, Indiana polis , New york,1960).

Delapan Seni merupakan imitasi atau realita tiruan dari alam/ilahi;

Sembilan seni lahir dilatarbelakangi adanya dorongan bermain-main (play impuls) yang ada dalam diri seniman (dikembangkan dari teori permainan oleh Frederich Schiller & Herbert Spencer).

Dari berbagai pengertian tentang seni tersebut, kita bisa memilih salah satu arti seni dan menyimpulkan apa pengertian seni yang sebenarnya sebagai pedoman dan dalam proses penciptaan karya seni dan guna memahami arti seni. Tentunya hal itu tidak terlepas dari pengetahuan kita tentang seni sebelumnya.

Karya Seni dan Fungsinya

Berpegang pada salah satu pengertian Seni, dalam proses penciptaan karya seni, seorang seniman bukan hanya sekedar pandai menggerakan kuas. Seorang penyanyi tidak hanya dapat bersuara nyaring dan hafal lagunya.

Dari keduanya dalam hal menggoreskan kuas kedalam kanvas dan menyanyikan lagu, rohani yang berupa emosi juga selalu ikut bekerja. Sebelum menciptakan karya seninya, seorang seniman harus mengenali, menghayati obyek karya yang akan dikerjakan. Bahkan dalam proses penciptaan pun harus ada kesatuan antara kegiatan jasmani dan rohaninya.

Hubungan Seniman Dengan Alam

Yang disebut dengan seniman adalah pelaku seni atau orang yang pekerjaannya menciptakan karya seni.

Pada jaman dahulu penciptaan karya seni semata-mata adalah untuk memperlengkapi kebutuhan pokok manusia dalam mengusai alam. Misalnya memperhalus kapak dari batu, yang selanjutnya diberi hiasan. Menggambar binatang pada dinding-dinding gua untuk mengagumi atau sebagai gambar sasaran dari binatang diburunya. Menghiasi alat-alat upacara ritual dengan mengambil bentuk alam, binatang dan tumbuh-tumbuhan.

Baru pada periode berikutnya orang berkeinginan untuk meniru alam senyata-nyatanya, seperti menciptakan bentuk patung Dewa yang dianggap sebagai makhluk luar biasa, dengan membentuk patung dari batu atau dari kayu dengan meniru bentuk manusia yang bertubuh perkasa, atau melukiskan Dewi yang cantik jelita. Untuk tarian mereka meniru gerak-gerik binatang taupun gerak alam yang lain.

Selanjutnya seniman dalam menciptakan karya seni tidakl lagi hanya meniru bentuk alam, tetapi alam dipakai sebagai sumber ide penciptaan seni. Oleh sebab itu kita akan menggambar obyek yang sama dengan hasil yang berlainan, baik bentuk dan pewarnaannya.

Hubungan Seniman Dan Karya Seni

Seperti yang telah dijelaskan diatas, bahwa karya seni itu bukan semata(-mata pekerjaan jasmani saja, tetapi peranan btin yang ingin memenuhi tuntutannya akan menimbulkan ciptaan-ciptaan baru.

Terwujudnya suatu karya seni oleh seorang seniaman pertama-tma karena adanya dorongan batin terhadap suatu tanggapan suatu obyek, dan selanjutnya mengekspresikan ( membabarkan) kedalam bentuk karya seni. Kalau karya itu berbentuk rupa disebut seni rupa, kalau berbentuk gerak disebut seni tari, kalau berbentuk bunyi disebut seni musik dan lain sebagainya.

Kecapakan jasmani dapat dilatih. Tetapi dorongan batin seniman tidak dapat timbul karena latihan. Kepekaan dorongan batin antara orang yang satu akan berbeda dengan yang lainnya. Yang satu mungkin lebih peka dari yang lain. Sehingga kebanyakan orang mengatakan seseorang mempunyai bkat yang lebih besar dari seoarang yang lain.

Karena sikap manusia itu selalu ingin berlebih dari yng lain, itulah sebabny karya seni itu selalu berubah dan berkembang. Seorang seniman dikatakan kreatif kalau dia secara cepat dn mudah untuk mengekspresikan dorongan batinnya dengan bentuk karya seni yang selalu baru.

Hubungan Seniman Dengan Masyarakat

Seni pada dasarnya adalah ungkapan isi hati dan perasaan yang dapat disebut sebagai bahasa seniman yang dikomunikasikan. Sumber komunikasinya adalah pencipta seni (seniman), sedangkan penerimanya adalah orang yang mengamati atau masyarakat.

Seniman menciptakan karya seni bukannya untuk dinikmati sendiri. Tetapi selaku pribadi berkeinginan karyanya itu dapat diketahui, dinikmati, dipahami dan dinilai dan dihargai oleh orang lain.

Dilihat dari sejarahnya seniman memang tidak dapat dipisahkan dengan masyarakat lingkungannya. Seniman yang berkeinginan meningkatkan karya seninya harus tanggap dengan penilaian masyarakat sekitarnya.

Suatu contoh dimana telah terjadi di Negara Belanda, seorang seniman yang bernama Vincent Van Gogh terpaksa bunuh diri karena karya ciptaanya tidak diakui oleh masyarakat pada jamannya. Masyarakat selain sebagai penilai dan pengagum, ikut pula mempopulerkan karya seninya. Bahkan masyarakat dapat memelihara kelangsungan karya seni pada generasi berikutnya.

Funsi Seni

Setiap karya seni yang dibuat oleh manusia selalu terkandung maksud untuk apa karya seni itu dibuat. Apakah ada kegunaan baik untuk diri sendiri yang mencipta, atau untuk orang lain. Kegunaan yang diperuntukan diri sendiri ( seniman) disebut fungsi individual, sedangkan yang diperuntukan orang lain atau masyarakat disebut fungsi sosial.

Fungsi Individual

Seorang seniman menciptakan karya seni selain untuk memenuhi kebutuhan jasmani, juga yang dianggap lebih utama adalah: untuk mencapai kepuasan rohani.

- Karya seni dapat memenuhi kebutuhan jasmani, karena dengan terciptanya suatu karya seni oleh senimannya, akan menambah jumlah harta kepemilikan, baik yang berupa benda yang mempunyai nilai uang, maupun yang berupa kecakpan, yang dapat dipakai untuk menunjng memenuhi kehidupannya sehari-hari.

- Sedangkan seni itu dapat memenuhi kepuasan rohani, ialah pada waktu proses penciptaan sampai terwjudnya karya seni itu seniman dapat mengekspreskan seluruh perasaan dan batinnya, seperti perasaan senang, susah, pandangan hidup, dan gagasan-gagasan yang lain.

Dalam karya seni itulah nantinya akan nampak pribadi dan pandangan hidup dari seniman pembuatna, yang masing-masing berbeda antara seniman yang satu dengan seniman yang lainnya.

Fungsi Sosial

Selaku warga masyarakat seorang seniman harus bertanggung jawab atas karya seninya, bagaimana karya itu dapat berguna untuk kepentingan orang banyak. Dalam banyak segi kehidupan, karya seni tersebut dapat dimanfatkn, terutama dalam bidang:

A. Penerangan
S
eni sebagai alat komunikasi pada zaman sekarang banyak dibutuhkan, yaitu untuk memperjelas penyampaian pesan kepada masyarakat yang belum terjangkau bila pesan itu disampaikan dengan bahasa lesan maupun tulisan. Penerangan dengan menggunakan media poster atau reklame (seni rupa), seni drama atau seni sastra dengan tema tertentu, akan lebih terkesan diterima oleh masyarakat disbanding dengan hanya melalui bahasa lesan / tulisan.

B. Pendidikan
Seni dalam dunia pendidikan telah diajarkan kepada siswa, supaya dengan mempelajari seni, siswa dapat memperhalus budi pekertiny, dan mereka dapat lebih mengerti dan menghargai budaya bangsa. Seni dalam dunia pendidikan dapat juga dipakai sebagai alat peraga untuk semua jenis bidang studi.

C. Keagamaan
Tidak dapat dipungkiri bahwa pada semua agama dalam segala perkembangannya, selalu menggunakan karya seni sebagai perlengkapannya. Baik untuk upacara rituilnya maupun untuk dekorasi bangunannya. Bahkan didalam sejarah telah dicatat banyak karya-karya seni tumbuh dan berkembang yang dilator belakangi oleh agama. Baik yang berbentuk seni rupa, seni musik, seni tari dan seni yang lain.

D. Hiburan
Segala jenis hiburan maupun tempat hiburan tanpa ditunjang oleh karya seni akan terasa lenggang. Unsur seni dalam semua bagian media hiburan selalu melekat di dalamnya. Misalnya dari seni rupa : adalah sebagai penyempurnaan dekorasi, interior, kostum dan sebagai alat promosi. Dari seni musik : dipakai sebagai pengiring maupun sebagai ilustrasi adegan maupun untuk menyemarakan suasana. Dan bahkan dari banyak seni dapat mendukung terselenggaranya suatu hiburan.

SENI RUPA

Sedikit membahas tentang Seni Rupa

Karya seni rupa adalah karya seni yang berwujud rupa yang dapat diindera dengan mata (kasat mata). Wujudnya dapat berupa dua dimensi (dua ukuran : panjang x lebar) seperti lukisan, potret batik dll, atau berwujud tiga dimensi ( ukuran : panjang x lebar x tebal) seperti patung, keramik, karya arsitektur dll.

Karya seni rupa masa lampau dan masa kini

Seni rupa yang kita kenal sekarang ini telah ada sejak zaman prasejarah.

Dalam perkembangannya dikenal 3 tingkat perkembangan, yaitu:
1. Seni rupa primitive
2. Seni rupa klasik
3. Seni rupa modern.
Kita mengenal seni rupa primitive dari peninggalan-peninggalan dari zaman masa lampau.

Ratusan tahun yang lampau manusia telah membuat patung maupun lukisan. Salah satu diantara yang kita ketahui sekarang adalah suatu rangkaian lukisan pada dinding gua jauh dibawah tanah, di Spanyol dan Perancis. Lukisan itu dari tahun antara 20.000.

Dan mengenai seni patung, pernah diketemukan di Perancis tengah patung dalam bentuk bison yang di buat dari bahan tanduk rusa. Menurut pemikiran dibuat antara tahun 500.000 dan 20.000 sebelum masehi.

Seni rupa primitive mempunyai ciri-ciri yang khusus, antara lain patung-patung digunakan untuk upacara-upacara kepercayaan. Karena itu kalau melukiskan manusia, terasa diliputi kabut misteri, magis, serta penuh dengan perlambangan.

Suatu contoh seni rupa primitive ; sebuah patung “ Pengemis perempuan membawa tempurung”. Pahatan suka baluba, Kongo, Afrika.

Pelukisan seni rupa primitive itu secara ekspresif. Karena itu pelukisannya tanpa mengenal proporsi kewajaran. Ditampilkan pernyataan kejiwaan saja, sehingga kalau mengadakan penonjolan-penonjolan bagian-bagian tertentu dari tubuh manusia misalna, juh dilebih-lebihkan.

Seni rupa primitive melukiskan apa adanya. Sering tanpa pertimbangan susila. Misalnya ptung manusia dilukiskan mulut ternganga, mata melebr, perut buncit, telanjang bulat.

Seni rupa klasik

Seni rupa klasik menunjukan pelukisn yang jauh berbedah dengan seni rupa primitive. Misalnya dlam hal melukiskan manusia, digambarkannya dalam bentuk yang idial indah. Manusia dipndng sebagai mahluk yang sesempurna-sempurnanya. Melukiskan seorang lelaki digambarknnya kepahlwanannya, kekuatannya, bentuknya yang atlistis, cakap. Melukiskan seorang wanita digambarkan kehalusannya, kecntikannya, gemulainya. Dengan demikian manusia tercermin sebagai dewa atau bidadari.

Contoh seni rupa klasik : ‘Mona Lisa” seorang wanita bangsawan. Lukisan ini sangat terkenal berhubung dengan senyumannya yang murung dan penuh misteri. Karya :eonarda da vinci tahun 1503.

Pada seni rupa klasik etik ( kesopanan) dan estetik (keindahan) dikembangkan sejauh-jauhnya. Dilukisankannya segi-segi kehidupan yang wajar. Dan sehubungan dengan tuntutan keindahan itu, diperlukan alat-alat yang lebih sempurna dalam menggunakan alat, mempelajari lebih tekun anatomi, perspektif dan kejiwaan.

Seni rupa modern

Seni rupa modern adalah suatu tingkatan baru. Dalam melukiskan manusia tidak hanya tergambar sebagai manusia biologis, akan tetapi juga menampilkan manusa rohaniah.

Dalam bentuknya yang kita hayati, tidak hanya mencontoh bentuk obyeknya semata-mata. Juga warna tidak digunakn yang sama dengan warna objeknya menurut penglihatan kita.

Bentuk dan warna yang digunakn pada seni rupa modern adalah bentuk dan warna yang lahie dari apa yang dipikirkan, direnungkan, dan dirasakan. Secara spontan digambarkan yang sesuai dengan yang hendak dinyatakan.

Contoh patung “ keluarga” dibuat oleh Henry Moore, Inggris.

PERKEMBANGAN SENI RUPA INDONESIA

Kepulauan Indonesia yang tersebar luas itu didiami oleh bermacam-macam suku bangsa. Masing-masing suku bangsa berlainan kebudayannya. Akan tetapi pada dasarnya mempunyai dasar yang sama. Namun perkembangan masing-masimg mengakibatkn berlainan corak. Antara lain karena pengaruh yang datang dari luar tidak merata diseluruh kepulauan Indonesia. Adapun dasar yang sama itu adalah kebudayaan yang disebut Indonesia asli, yang berpangkal pada kepercayaan gaib roh nenek moyang.

Dengan dasar kebudayaan Indonesia asli itu, bangsa Indonesia dalam ciptaannya menunjukan kepribadiannya dengan corak yang tersendiri.

Dari zaman purbakala, zaman sebelum sejarah tertulis, telah ditemukan peninggaln-peninggaln kebudayaan dari zaman batu. Peninggalan itu berupa meja batu, kursi batu dan balai berlantaikan batu.

Dari zaman batu yang lebih akhir, ditemukan peninggalan ruangan berdinding batu didalam tanah dan mungkin peti mati mayat dari batu. Ada tanda-tanda yang menunjukan bahwa ruangan dan peti tersebut pada sebelah bagian dinding dalamnya berlukiskan. Oleh karena itu diperkirakan mungkin sekali seni lukis Indonesia telah mulai pada zaman itu.

Kemudian terdapat peninggalan-peninggalan patung-patung nenek moyang yang bentuknya sangat sederhana sekali, akan tetapi tetap indah dan seolah-olah memiliki kekuatan gaib.

Pada beberapa suku bangsa seperti Nias, Toraja, dan Irian masih terdapat sisa-sisanya. Oleh suku bangsa Toraja masih dibuat patung nenek moyang. Juga oleh suku Asmat di Irian Jaya.

Pada ketika itu pahatan-pahatan dikerjakan dengan menggunakan sejenis kerang, gigi anjing, tulang, taring babi.

Hasil karya seni rupa ketika itu erat hubungannya dengan kebutuhan dan kepercayaan mereka. Pahatan –pahatan mereka melukiskan lambang-lambang hidup dengan binatang-binatang buas, manusia, atau sekitar mereka seperti daun-daun pohon tertentu.

Hasil karya mereka berupa pahat-pahatan pada perisai, lembing, panah, topeng, gendang, terompet, patung-patung nenek moyang dan lain-lain.

Perkembangan tingkat berikutnya yaitu sesudah bangsa Indonesia berkenalan dengan kebudayaan Hindu. Pada zaman itu timbullah kerajaan-kerajaan yang besar. Mula-mula di Jawa Barat, kemudian Jawa tengah dan akhirnya di Jawa Timur pusatnya. Demikian juga halnya di Sumatra dan kalimantan. Pada ketika itu seni rupa mendapat kesempatan untuk berkembang seluas-luasnya.

Raja erlangga sebagai Wisnu berkendaraan burung garuda. Patung ini berasal dari tempat pemandian Belahan, Jawa Timur.

Dengan datangnya zaman Indonesia Hindu ini, penyembahan nenek moyang disesuaikan dengan penyembahan kepada dewa-dewa Hindu. Raja-raja dianggap sebagai penjelmaan dari dewa didunia yang memikul suatu tugas. Kemudian ketika raja itu mangkat, dibuatlah baginya makam berupa candi. Didalam candi ditempatkan patung raja dengan memakai tanda-tanda kedewaannya, diatas abu pembakarannya. Begitu halnya, patung raja erlangga dibuat seperti patung dewa wisnu diatas garuda. Patung Ken dedes yang berasal dari Singosari diciptakannya sebagai Pradnyaparamita. Patung ini adalah contoh yang bermutu tinggi alam seni pahat Indonesia.

Pada abad ke 8 sampai dengan abad ke 10, seni patung disini bercorak naturalisme ( melukiskan segala-galanya menurut keadaan yang sebenarnya ) yang sangat tinggi. Relief (gambar timbul) pada candi Borobudur menunjukan hal itu. Relief tersebut merupakan rangkaian dari sejarah budha. Candi Prambanan dihiasi dengan relief cerita Ramayana.

Contoh gambar candi borobudor dan patung kepala Budha bersal dari candi borobudur.

Pada relief candi Borobudur terdapat ganbar seorang raja sedang menerima utusan negeri asing yang membawa potret seorang putri. Utusan itu tentu datang dari seberang laut, ternyata dari kapalnya yang sedang berlabuh. Pada gambar lain, utusan itu memperlihatkan potret seorang pangeran yang berkendaraan seekor gajah. Dengan memperhatikan kedua gambaran ini kita dapat mengambil kesimpulan bahwa pada masa itu telah ada seni lukis potert. Kemudian kebudayaan berpindah dari Jawa tenggah ke jawa Timur.

Seni rupa disini mendapat perubahan bentuknya. Aliran naturalisme yang kita dapati pada patung-patung dan relief di Jawa tengah terdesak oleh aliran baru. Aliran ini lebih mementingkan pembagian bidang yang ditujukan kerah hiasan semata-mata.

Usaha –usaha perspektif hampir-hampir tidak terdapat lagi. manusia dan binatan digambarkan dalam bentuk baru. Pohon-pohon dan awan mendapat bentuk yang tertentu dengan memasukan pengertian kekuatan gaib.

Corak relief di Jawa Timur itu adalah corak Indonesia asli. Pendapat ini berdasarkan kenyataan bahwa bentuk manusia pada relief itu menyamai bentuk wayang. Sedangkan wayang adalah asli seni rupa Indonesia. Juga bersamaan coraknya dengan lukisan yang masih lazim di Bali.

Kedatangan Islam ke Indonesia kemudian ditandai dengan lahirnya kerajaan-kerajaan Islam Indonesia. Pusat kebudayaan Hindu-Budha meninggalkan Jawa berpindah ke Bali.

Dalam manuskrip-manuskrip lama Bali yang terdiri dari daun lontar yang berisi cerita-cerita legenda atau cerita wayang, banyak digunakan ilustrasi gambar sehubungan dengan ceritanya.

Ilustrasinya merupakan lukisan miniatuir ( dalam bentuk yang kecil ) yang indah. Pengerjaannya dengan semacam pisau yang digoreskan diatas daun lontar yang berukuran 2 sampai 5 cm sepanjang 11 sampai 18 cm. kemudian goresan-goresan tersebut diisi dengan campuran minyak dan jelaga.

Disini agama tetap merupakan sumber ilham dan daya penggerak yang maha besar kuat dan tiada habisnya bagi kehidupan penciptaan seni rupa. Karena itu seni lukis dan patung bali terutama sekitar dewa-dewa dan cerita Ramayana, yaitu cerita yang dianggap suci dan keramat oleh rakyat. Tak ada perhatian untuk memahat atau melukis peri kehidupan sehari-hari.

Tokoh-tokoh yang dilukiskan adalah dewa, kesatria, raja, raksasa. Banya lukisan tentang peperangan yang diambil dari cerita wayang. Adegan peperangan selalu digambarkan secara hebat. Kepala atau anggota badan yang putus, tumpahan-tumpahan darah, disana sini gambar panah, cakra atau senjata yang aneh-aneh beterbangan.

Contoh lukisan wayang

Antara tokoh yang baik dan yang jahat tampak dibedakan secra jelas. Tokoh yang baik terdiri dari raja, kesatria, putri, maupin dewa-dewa. Mereka ini digambarkannya dalam bentuk badan yang ramping, tangan yang panjang dan halus, wajah selalu tersenyum. Sedangkan tokoh-tokoh yang kasar serta jahat, digambarkan badan besar, berbulu, mata melotot, mulut menyeringai dengan gigi yang tajam-tajam, sehingga secara keseluruhan mencerminkan kekejaman.

Penggambaran tokoh-tokoh yang sedemikian itu juga pada wayang kulit Bali. Wayang kulit Bali berbeda dengan wayang kulit Jawa, meskipun wayang kulit Jawa itu sebagai bentuk asal dari wayang kulit Bali. Wayang kulit bali lebih realistis ( sesuai dengan keadaan yang nyata ), baik dalam hal menggambarkan wajah tokoh-tokohnya, sampai bentuk tubuh dan bagian-bagiannya.

Seni rupa atas

istilah ini untuk menyebut seni yang dihasilkan untuk keperluan kemewahan, produk-produk eksklusif, seni yang berhubungan dengan teknologi maju, industri impor yang berkaitan dengan pertumbuhan lapisan atas dan menengah masyarakat di kota besar. Yang oleh kaum terpelajar dinamakan pula “Seni lukis, Seni patung modern masuk golongan ini, begitu pula dengan yang disebut desain”; desain interior,produk grafis dan lain-lain.

Seni rupa atas tidak jauh beda dengan High art, yang dapat diartikan sebagai seni tinggi. seni adi luhung, seni yang diagungkan oleh masyarakat tertentu sehingga menimbulkan citra sukar untuk diubah karena telah melewati masa-masa keemasan dan dipercaya sebagai seni yang telah mewakili sejarah.

Seni rupa bawah

seni rupa bawah merupakan seni rupa yang distribusinya, produksinya dan konsumsinya berlangsung dilapisan sosial bawah dan menengah (menengah –bawah) di kota besar, terutama di kota kecil dan di desa.

Jelasnya seni rupa ini berhubungan dengan ekonomi lemah dan taraf hidup rendah, dipraktekkan oleh golongan kurang mampu, kurang terpelajar, berhubungan dengan teknologi yang sederhana, kadang dibuat sendiri atau bikinan lokal.

Sebagai contoh misalnya lukisan kaca,”Lukisan jalanan”, lukisan becak, lukisan dan patung bali yang banyak dijajakan di jualanan.

Sering kali seni rupa bawah dihubungkan dengan tradisi, meskipun cara dan sifat hubungan itu bermacam-macam.

Seni rupa bawah juga berkaitan dengan Low Art yang merupakan kebalikan dari High art, Low Art dianggap karya seni rendahan, seni nomor dua dimana seni yang sangat berdekatan dengan masyarakat kelas bawah, biasanya diproduksi secara masal dan mudah didaat serta murah harganya.

Seni Rupa kontemporer

Secara umum seni rupa kontemporer dapat diartikan seni rupa yang berkembang masa kini, karena kata “ komtemporer’ itu sendiri berartimasa yang sezaman dengan penulis atau pengamat saat ini.

Istilah ini tidak merujuk pada satu karakter tertentu. Karena istilah ini menunjuk pada sudut waktu, se3hingga yang terlihat adalah trend yang terjadi dan banyak mewarnai pada suatu masa atau zaman.

Jika dikaji lebih luas pada latar belakang yang muncul dalam seni rupa kontempore memang sangat beragam, karenanya belum ada kesepakatan yang baku untuk memberi tanda pada seni rupa kontemporer. Ada yang menganggap seni rupa kontemporer dari sudut teknis, seperti munculnya seni instalasi (yang bersifat instalatif, site spesific installation).

Menguatnya seni lokal (indiegenous art), sebagai jawaban atas munculnya masalah-masalah yang muncul dalam praktek dan perilaku artistik yang menyimpang dari konvensi sebelumnya(modernisme).

Ada pula yang menganggap menguatnya pengaruh ideologi postmodern & wacana post-kolonialism dewasa ini, sampai hanya dianggap sebagai pergantian istilah semata dari kata “ modern ‘ pada praktik artistik yang sama.

Seni Rupa Penyadaran, istilah ini di Indonesia dipopulerkan oleh Moelyono, seniman yang tinggal di pinggir kota tulungagung, Jawa Timur. Mendapat istilah “penyadaran” ketika ia telah terlibat intensif bersama para petani dan nelayan miskin di teluk Brumbun dan nggerangan, tulungagung.

Istilah “ penyadaran’ ia didasarkan pada pengertian belajar memahami kontradiksi sosial, politik, ekonomi,serta mengambil tindakan untuk melawan unsur-unsur yang menindas dari realitas tersebut.

Seni Rupa Penyadaran dilakukan dengan metode dialog dimana rakyat didudukan sebagai subjek untuk membuka kenungkinan komunikasi dan bersikap kritis. Sedangkan dasar dari gerakan ini adalah implementasi. Suatu pergulatan keberpihakan, keterlibatan yang memerlukan kesabaran, keuletan, posisi yang sejajar, demokratis dan ujian konsistensi sikap.

Gerakan Seni Penyadaran yang serupa juga dilakukan oleh suatu kelompok di Yogyakarta yang menamakan diri “Taring padi” yang cukup signifikan untuk dicatat sebagai kelompok yang bergerak atau lahir atas reaksi keadaan dan kondisi kehidupan kesenian di Indonesia. Mereka terdiri atas beberapa perupa yang rata-rata (sebagian besar ) adalah mahasiswa ISI Yogyakarta.

Di tengah silang sengkurat kehidupan kapitalisme yang melanda seni Indonesia mereka kebersamaan bahwasanya kesenian juga merupakan hak bagi rakyat kecil. Mereka berpameran, mengingatkan kesenian di lingkungan petani dengan menyelenggarakan festival-festival, pagelaran – pagelaran serta menerbitkan media komunikasi bernama Terompet Rakyat.

Dalam statusnya mereka menyebutkan bahwa misi Taring Padi adalah wadah pengembangan seni yang berorintasi budaya lokal kerakyatan yang digali dari kebutuhan rakyat serta pertumbuhan pribadi demokratis kerakyatan dan tidak materialistis. Mereka memproklamasikan diri pada tanggal 21 desember 1998 di LBH Yogyakarta. Beberapa nama anggota antara lain Yustoni Volunteero, devi Setiawan, Yususf (ucup), Surya Wirawan, syamsul (Icul) Bahri dan kawan-kawan.

sekitar tahun 2002, dikota kecil Jember, Jawa timur, juga lahir suatu komunitas yang menamakan diri “ Komunitas Keras Kepala”. Dimana gerakan komunitas yang didirikan oleh beberapa perupa lokal Jember yang beberapa diantaranya juga anggota kelompok Taring Padi Yogyakarta. Gerakan 2 kelompok seni tersebut mengadopsi gerakan yang serupa, gerakan seni penyadaran dan seni kerakyatan ( seni untuk Rakyat), yang dapat disebut juga sebagai seni pembebasan.

Melalui seni pembebasan itu mereka berusaha memberikan seruan-seruan untuk membuka kesadaran sejati massa rakyat dan menggerakannya untuk melawan dan membebaskan diri dari ketidakadilan tanpa ditekan oleh paksaan ideologi apapun.

Melalui karya-karyanya, komunitas yang beranggotakan beberapa perupa lokal diantaranya, Erik Wijayanto, Andy “letoy”, Triek “Kenthir”, dedi , Hamka Agung dan perupa-perupa lainnya ini, berusaha menyuarakan aspirasi rakyat dan mencoba merefleksikan konflik-konflik sosial yang terjadi di daerahnya kedalam karya-karyanya.

Hamka Agung Balya.

MAESTRO JEMBER


PROFIL SENI-BUDAYA
M.FADLI RASYID
Penulis & Perupa Jember


------------------------------------------------------------------------------
Banyak orang tidak tahu, monumen gerbong maut di pusat kota Bondowoso, Patung Jenderal Ahmad Yani dan Jenderal S.Parman di Jakarta, dibuat oleh seorang seniman asal Jember. Dialah Fadly Rasyid (70 tahun), seniman asal Desa Mumbulsari Kabupaten Jember Jawa Timur.

Selain mahir membikin patung, Fadly juga dikenal sebagai pelukis dan penulis produktif sejak tahun 1960 an hingga tahun 1980 an. Bahkan saat ini, kakek 3 cucu itu tengah mempersiapkan sebuah novel tentang 'petrus' pembunuhan misterius jaman orde baru di wilayah Jember. "Judulnya 'Salvo'. Temanya tentang peristiwa petrus yang ternyata banyak sekali terjadi di Jember di tahun 1970-1980 an,"katanya.

Tahun 1958, setelah lulus dari Sekolah Guru, Fadli sempat mengajar di sebuah Sekolah Rakyat (SR) di Kecamatan Pakisan Kabupaten Bondowoso. Tahun 1962, hasratnya untuk terjun dibidang seni-budaya tak tertahankan lagi. Dia nekat pindah ke Yogyakarta, dan bergabung dengan kelompok seniman dalam Komunitas Sanggar Bambu. "Selama 4 tahun itu, setelah mengajar, saya keluyuran ke hutan di Situbondo, Banyuwangi,Bondowoso dan Jember. Dari sana saya membuat banyak lukisan sketsa dan bahan menulis cerpen dan novel, dan tulisan kritik seni rupa,"katanya.

Di tahun 1970-an, Fadly sudah mulai ikut pameran seni rupa, berkeliling nusantara bersama anggota komunitas Sanggar Bambu. Tahun 1972 hingga 1976 memelopori pembangunan monumen Gebrong Maut di Bondowoso dan pembangunan patung Jenderal Ahmad Yani dan Jenderal S Parman di Jakarta. 'Selain itu, saya juga banyak terlibat dalam penggarapan poster-poster teater nya WS Rendra dan para seniman Yogya,"kenangnya.

Dalam periode itu pula, Fadly produktif menulis puisi, cerpen dan cerita humor. Dia sempat mendirikan majalah humor 'ASTAGA' bersama Arswendo Atmowiloto. Dia juga merintis dan menjadi pengasuh majalah '69' sebuah majalah tentang seni buadaya bersama almarhum Motinggo Busye, dan Toha Mochtar. Fadly juga menjadi salah satu pendiri majalah anak-anak 'KAWANKU' bersama Asmara Nababan, Trem Sutedja dan Toha Mochtar. Tahun 1978, Fadly menjadi pememang pertama Lomba penulisan Naskah Humor yang diselengarakan Lembaga Humor Indonesia dan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ).

Karya-karya tulisnya kebanyakan ditujukan untuk 'segmen' anak-anak. Fadly mengakui, selain hal itu untuk tetap menyalurkan 'misi pendidikan' (sebagai guru yang berhenti mengajar), dia juga menganggap anak-anak harus terus dimotivasi dengan karya-karya tulis seperti puisi, cerpen dan novel.

Puisi dan cerita yang ditulis Fadly selalu mengusung tema lingkungan dan nasionalisme. Semuanya menggunakan tokoh anak-anak. Selain tersebar di berbagai media seperti Horizon, Kompas, Zaman, Kawanku, beberapa naskah sudah diterbitkan menjadi buku. Buku kumpulan puisi karya Fadly yang sudah diterbitkan antara lain, Musim dan Peristiwa Alam, Surat Pada Pahlawan, dan Dibawah Matahari. Sedangkan cerita/novel anak karyanya yang sudah diterbitkan seperti Arman Anak Revolusi, Merah Putih Berkibar Kembali, Tamu yang Cerdik (cerita Jenaka/Humor). Ada juga cerita bertema pelestarian lingkungan dan benda sejarah seperti Lepas Ke samudera Luas, Melacak jejak Harimau Jawa, Gerhana Diatas Baluran dan Merebut Dewi Rengganis.

Karena itu, karya tulisnya untuk 'orang dewasa' hanya dua, pertama novel berjudul WABAH, (terbit tahun 1980), dan yang sekarang sedang digarap berjudul 'SALVO'. Novel WABAH berkisah tentang keterpurukan Bangsa Indonesia akibat penjajahan Jepang, dengan setting cerita di Jember. Sedangkan novel SALVO --yang kini sedang dipersiapkan--mengambil tema tentang tragedi Petrus (penembakan misterius) zaman Orde Baru, juga menggunakan data dan persitiwa yang pernah terjadi di Jember.

Saat itu, kata Fadly, pada beberapa bukunya dia menggunakan nama samaran. Buku 'Merebut Dewi Rengganis' terpaksa dicantumkan nama anaknya Bayu Anggun Nilakandi, dan buku 'Gerhana Diatas Baluran' menggunakan nama keponakannya, Mega Nusantara. "Karena saat itu ada ketentuan dari instruksi presiden (Inpres), yang mengatur atau mengekang tulisan yang akan diterbitkan dan digunakan untuk bacaan anak-anak di sekolah,"katanya.

Sedangkan karyanya di bidang seni rupa, selain dikenal sebagai ilustrator (majalah dan buku), pelukis poster, dia juga banyak memproduksi lukisan abstrak dan membangun monumen.

Selain patung jenderal Ahmad Yani dan Jenderal S.Parman di Jakarata, monumen 'Gerbong Maut' di alun-alun kota Bondowoso adalah salah satu karyanya. Monumen itu dibuat untuk mengenang peristiwa tewasnya 100 orang parjurit pejuang kemerdekaan yang ditawan Belanda. Tanggal 23 nopember 1947 mereka diangkut dari stasiun Bondowoso dengan gerbong barang yag nyaris tanpa ventilasi udara dan makanan-minuman selama 16 jam menuju penjara bubutan-Surabaya.

Tahun 1975 hingga tahun 1983, Fadly juga aktif mengikuti pameran lukisan dan menggelar pameran tunggal lukisannya di Yogyakarta dan Jakarta. Komposisi lukisannya terbilang unik; lebih banyak mengandalkan
kekuatan garis dan warna, dan dikerjakan dalam waktu relatif singkat. Dia mengaku lebih 'mood' melukis secara spontan. Yang penting baginya, originalitas ide dan imajinasi, kemudian dipadu dengan kekuatan garis dan warna. Ciri utama lukisan-lukisannya adalah adanya satu titik yang sengaja dibubuhkan dalam bidang paling sempit dalam setiap lukisannya. "Saya merasa perlu selalu memberikan titik itu. Satu titik religi, yang menjadi sumber imajinasi saya,"katanya.

Hal itu juga diungkapkannya dalam puisi di buku pengantar pameran tunggalnya di Balai Budaya-Jakarta tahun 1992 lalu yang berjudul 'Simakan';
---------------------------------------------------
Ada apa dibalik warna, dana apa yang bisa diperbuat dengan garis?

Seperti seorang anak yangmerajut jaring-jaringnya
Untuk menangkap kunang-kunang dalam gelap malam,
Begitulah aku bermain dalam sebuah petualangan
dibalik dimensi-dimensi warna
Kujaring kelap-kelip imaji itu
Dengan anyaman garis-garisku
Anak-anak itu terus bermain
dan terus bermain-main dalam permainan spriritual
Mungkin itulah sayatan terdalam
dalam ekspresi hidupku
Semoga Tuhan Berkenan.
-------------------------------------------------------------

Sejak tahun 1983 hingga kini Fadly lebih memilih tinggal di Jember. Selain melukis dan menulis cerita dan puisi, dia juga mengisi hari-harinya dengan bertani. Sejak muda, dia memang tak lupa untuk selalu mengelola 2,5 hektar sawah yang dimilikinya. Sesekali dia mengikuti pameran lukisan di bberapa kota. "Tapi saya tidak datang.Saya kirim lewat paket,"katanya.

Sejak awal tahun ini, dia dan istrinya meninggalkan rumahnya di Desa Mumbulsari yang sudah penuh lukisan. Mereka menempati rumah baru di Dusun Lampeji desa Mumbulsari--yang terletak sekitar 2kilometer dari rumah asalnya. "Rumah itu untuk melukis dan menyimpan lukisan. Disini saya konsentrasi ngurus cucu dan menulis,"katanya. Fadly yang sudah 1 tahun mengalami gangguan pendengaran itu mengakui, dia tak ingin anak cucunya terlalu banyak 'dididik oleh televisi'.










Tema Perlindungan Satwa Dalam Novel Anak-Anak
--------------------
Perlindungan satwa merupakan tema lingkungan yang menjadi ide cerita-cerita atau novel anak yang ditulis Fadli. Taman Nasional Baluran dan Taman Nasional Meru Betiri (TNMB)menjadi ide cerita sekaligus setting cerita anak-anak yang ditulisnya. "Saya pikir, kita harus dan hanya bisa berharap kepada anak-anak, sebagai generasi penerus untul melestarikan lingkungan. Saya memotivasi mereka lewat cerita,"kata Fadly.

Novel berjudul 'Melacak Jejak Harimau Jawa' yang diterbitkan tahun 1981 dan 1982, mengambil tema penelusuran keberadaan harimau jawa, hewan langka yang hingga kini diyakini hanya terdapat di kawasan hutan Meru Betiri-Jember. Novel yang diterbitkan oleh Remadja Karya Offset-Bandung itu, kata Fadli berawal dari polemik keberadaan satwa langka itu di kawasan TNMB yang terletak sekitar 10 kilometer dari rumahnya di Dusun Lampeji Desa Mumbulsari Jember. "Saat itu banyak warga yang bertemu harimau jawa, tetapi tidak sedikit yang berniat memburunya,"kata Fadly.

Tiga orang anak yang menjadi tokoh cerita itu adalah, Burhan, adalah siswa sekolah dasar di Jakarta, yang datang dan bersahabat dengan siswa sekolah di Jember, Parman, dan Widodo, anak desa Curahnongko.

Novel berjudul 'Lepas Ke samudera Luas', terbit tahun 2000. Bercerita tentang pentingnya pelestarian penyu. Ide cerita itu, kata Fadly, bermula dari perjalanannya ke kawasan konservasi pantai Sukamade, wilayah TNMB di daerah Banyuwangi Selatan. Bakir, tokoh dalam cerita itu, adalah siswa sekolah dasar yang menjadi pelopor pelestarian penyu dan telur penyu di kawasan pantai di desa Pasirlaut--desa rekaan Fadly dalam cerita itu.

Pantai Sukamade di Desa Sarongan, Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi berada di dalam kawasan Taman Nasional Meru Betiri (TNMB).TNMB memiliki luas wilayah 37.626 hektare dalam wilayah Kabupaten Jember dan 20.374 hektare dalam wilayah Kabupaten Banyuwangi. Pantai itu memang satu-satunya pantai di Jawa Timur yang menjadi tempat bertelurnya empat (4) dari tujuh (7) jenis penyu yang ada di dunia. Sepanjang tahun, empat (4) jenis penyu mendarat dan bertelur di pantai itu adalah Penyu Hijau (Chelonia mydas), Penyu Slengkrah (Lepdochelys olivaceae), Penyu Sisik (Eretmochlys imbricata), dan Penyu Belimbing (Dermochleys coriaceae). Pantai Sukamade disukai penyu karena selain pasirnya yang lembut dan putih, di kawasan itu makanan penyu seperti ganggang laut berlimpah.

Sedangkan cerita berjudul 'Gerhana Diatas Baluran' (diterbitkan tahun 1983 oleh CV Sehati-Jakarta), mengambil tema tentang lima (5) orang anak yangberhasil mengagalkan pencurian dan perburuan merak dan banteng secara liar di kawasan hutan Taman Nasional Baluran-Situbondo. Aspar, Jayus, Ripin, Husin dan Nardi adalah lima sekawan yang membolos dari sekolahnya, namun berhasil mengagalkan komplotan pemburu satwa di kawasan hutan konservasi Baluran.

--------------------------

Nama : Fadly Rasyid.
Nama istri: Sri Utami
Nama Anak :
1. Bahana Purwa Kendita
2. BAyu Anggun Nilatandi

Pendidikan
1.Sekolah Rakyat (SR)-Jember
2.Sekolah Guru tingkat B-Jember
3.Sanggar Bambu-Yogyakarta

apakah itu seni

SENI DAN APAKAH ITU SENI? Berbicara tentang pengertian seni, mungkin kita akan merasa sedikit bingung, karena terlalu banyak ahli yang mengartikan persoalan seni. Belum ada kesepakatan yang jelas mengenainya, karena tinjauan yang dipakai berbeda-beda. Sejauh ini, dari berbagai pernyataan tentang seni mengarah pada persoalan kesanggupan akal manusia baik berupa kegiatan rohani maupun fisik untuk menghasilkan sesuatu yang bernilai artistik(luar biasa), menggugah perasaan orang lain. Namun ada beberapa pengertian seni yang bisa kita jadikan sebagai acuan dalam mempelajari Seni itu sendiri. Yang pertama seni dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang dilakukan oleh orang bukan atas dorongan kebutuhan pokoknya, melainkan adalah apa saja yang dilakukan semata-mata karena kehendak akan kemewahan, kenikmatan ataupun karena dorongan spiritual (Everyman Encyclopedia). Kedua, seni adalah segala perbuatan manusia yang timbul dari hidup perasaannya dan bersifat indah, sehingga dapat menggerakan jiwa perasaan manusia (dalam karya Ki Hajar Dewantara, bagian pertama: Pendidikan, Majelis luhur persatuan Taman Siswa, Yogyakarta,1962). Tiga Seni merupakan kegiatan rohani manusia yang merefleksikan realitet (kenyataan) dalam suatau karya yang berkat bentuk dan isinya mempunyai daya untuk membangkitkan pengalaman tertentu dalam alam rohani penerimanya (Akhidiyat Karta Mihaja,” Seni dalam pembinaan Kepribadian Nasional). Empat Seni merupakan alat buatan manusia untuk menimbulkan efek-efek psikologis atas manusia lain yang melihatnya ( Thomas Munro,Evolution in the Art, The Cleveland Museum of Art, Cleveland,1963). Sedangkan seorang pelukis asal Indonesia S, Sudjojono mengatakan, seni adalah jiwo kethok. Enam Seni adalah karya manusia yang mengkominikasikan pengalaman-pengalaman batinnya; pengalaman batin tersebut disajikan secara indah atau menarik sehingga merangsang timbulnya pengalaman batin pula pada manusia lain yang menghayatinya. Kelahirannya tidak didorong oleh hasrat memenuhi kebutuhan pokok, melainkan merupakan usaha melengkapi dan menyempurnakan derajat kemanusiannya memenuhi kebutuhan yang sifatnya spiritual (Soedarso Sp). Tujuh seni adalah sebagai transmission 0of feeling (Leo Tolstoy, What is Art?, Bob Merrill, Indiana polis , New york,1960). Delapan Seni merupakan imitasi atau realita tiruan dari alam/ilahi; Sembilan seni lahir dilatarbelakangi adanya dorongan bermain-main (play impuls) yang ada dalam diri seniman (dikembangkan dari teori permainan oleh Frederich Schiller & Herbert Spencer). Dari berbagai pengertian tentang seni tersebut, kita bisa memilih salah satu arti seni dan menyimpulkan apa pengertian seni yang sebenarnya sebagai pedoman dan dalam proses penciptaan karya seni dan guna memahami arti seni. Tentunya hal itu tidak terlepas dari pengetahuan kita tentang seni sebelumnya. Hamka Agung Balya

mencari jati diri

mencari jati diri
aclyric on canvas. 150 x 100 cm.

ledakan jiwa

ledakan jiwa
aclyric on canvas. 200 x 150 cm.

kra'motak

kra'motak
media: campuran. 20x30cm.

iblis budaya

iblis budaya
aclyric on canvas. 50x40cm.

generasi terbelenggu

generasi terbelenggu
acllyric on canvas. 130x100cm.

nyanyian kaum urban

nyanyian kaum urban
acliric on canvas. 200 x 150 cm

my profil

Foto saya
jember, jawa timur, Indonesia
aku adalah aku, bukan kamu!